Hai para manusia! Perkenalkan, namaku Miaw-Lee. Nama panggilanku Molly. Nama Jepangku Mio-san. Nama pagiku Mio-J dan nama malamku Honda Vario. Pertama-tama ijinkan aku untuk sekedar (ehem) memberikan sedikit sambutan dalam diari (diari, diare, atau diary yah?) pertamaku ini.
Ucapan terima kasih yang tak terhingga untuk bundaku tersayang, bunda Melly yang sekarang lagi garuk-garuk pasir di kota seberang, Pamekasan. Terima kasih telah melahirkanku dengan susah payah. Walaupun posisiku sungsang dan bikin bunda kesakitan, tapi bunda tetap sayang sama aku. Terima kasih juga sudah mau mengurusku, menjilatiku setiap hari, serta memberiku ASIK (Air Susu Ibu Kucing) setiap aku merasa kelaparan meski semua itu hanya berlangsung selama 3 bulan. Bunda, akhirnya anakmu ini telah berhasil menemukan cara untuk mengetik dengan indah di laptop Mbak Ayu meskipun akhirnya keyboard laptop Mbak Ayu mengalami luka-luka setelah aku pencet dengan kuku-kukuku yang lentik (maaf aku nggak punya jari). Bunda bangga, kan? Aku akan menjadi anak bunda satu-satunya yang bisa internetan dan posting di blog. Ya, aku memang keren.
Yang kedua aku ingin mengucapkan terima kasih kepada ayahandaku tercinta yang entah berada dimana. Terima kasih telah menghamili bundaku. Tanpamu, aku tidak akan bisa seperti ini. Meski kita tidak pernah bertemu dan kau tidak pernah mempertanggung jawabkan perbuatanmu terhadap bundaku, tapi aku tetap mencintaimu. Aku yakin kau adalah seekor Anggora pejantan tangguh yang tampan sekelas David Archuletta.
Ucapan terima kasih yang ketiga akan kutujukan pada Papa Yudi. Terimakasih banyak Papa sudah dengan tulusnya memenuhi kebutuhanku. Terimakasih sudah beliin aku Whiskas Pockets baru rasa Salmon setiap persediaan makananku sudah mau habis, makasih sudah beliin aku susu segar. Papa memang mengerti banget kalo aku kekurangan asupan ASIK, terimakasih sudah mengganti WCku yang terlalu kecil untuk menampung bokong semok ku dengan WC yang super big size alhamdulilah sekarang sudah lega setiap kali pup (pup atau puups atau poops ya?) nggak perlu khawatir bokongku nggak tertampung.
Yang keempat, ucapan terima kasih kepada Mama Menik. Terima kasih banyak, Ma sudah memberiku nama indah itu. Terima kasih sudah mau mengisikan tempat makanku setiap kali isinya habis, terima kasih sudah mau mengganti air minumku, terima kasih sudah mau memandikanku dan menggunting kukuku setiap minggu. Aku sayang banget sama mama walaupun mama suka nendang bokongku setiap kali aku mulai iseng nyakar-nyakar kursi. Maaf sudah mecahin vas bunga mama, maaf sudah merusak kursi-kursi kesayangan mama, maaf sudah bunuh cicak-cicak peliharaan mama, aku janji nggak akan makan mereka lagi.
Untuk yang kelima aku akan mengucapkan terima kasih kepada Mbak Ayu, anak pertama Mama dan Papa yang umurnya masih 17 tahun. Ingat, 17 TAHUN bukan 19 tahun begitu kata Mbak Ayu. Terima kasih karena Mbak Ayu suka diam-diam bukain pintu kandangku disaat mama sedang mengurungku, terima kasih sudah mengelusku tiap hari walaupun akhirnya Mbak Ayu harus bersin-bersin karena alergi terkadang aku kasihan sama Mbak Ayu aku rasanya ingin membereskan barang-barangku (?) dan pulang naik bis ke Pamekasan biar Mbak Ayu nggak bersin-bersin lagi tapi masalahnya aku nggak tau harus naik bis apa. Terima kasih sudah mau mandiin aku tiap minggu, terima kasih sudah dengan senang hati membersihkan bekas muntahanku aku tau Mbak Ayu sebel tapi aku juga tau Mbak Ayu takut dimarahin mama kalau nggak dibersihin. Terima kasih sudah mau mengejarku setiap kali aku mencoba pergi dari rumah. Tenang, aku nggak bakalan pulang ke Pamekasan aku pergi dari rumah cuma untuk main air di sawah, atau berguling-guling diatas lumpur, atau untuk nangkepin kupu-kupu dan belalang, atau bisa juga untuk ngejablay dikebun sebelah yang ada kucing pejantannya *oooppss. Terima kasih sudah mau pura-pura pingsan setelah jempol kaki Mbak aku gigit tadi dan pura-pura ikhlas minjemin aku laptop plus ngijinin aku nulis di blog Mbak Ayu. Aku janji habis ini aku bakalan nyari pacar kayak Mas Widyan yang bisa bikinin aku blog biar aku nggak numpang lagi.
Yang ke enam aku mau berterima kasih kepada Mbak Gendut, anak kedua dari Mama dan Papa yang badannya segede gaban. Terima kasih sudah sering ngajak aku main dan jalan-jalan. Aku selalu nyaris kehabisan nafas setiap kali digendong sama dia. Please jangan terlalu nepsong kalo gendong aku, sadar body yah.
Dan yang ketujuh, terima kasih buat Yuk Dar pembantu Mama yang setiap hari dengan senyumnya yang merekah nyuciin pasir bekas pup dan BAK ku. Yuk Dar memang joss gandoss. Maaf kalau sering ngganggu Yuk Dar tiap kali lagi nyapu, sebenernya aku juga pengen bantu Yuk Dar nyapu tapi Yuk Dar nggak pernah ngerti omonganku. Entahlah, sepertinya Yuk Dar rada kopok.
Hmm sebenernya masih ada satu anggota lagi dirumah Papa dan Mama yaitu Icha, anak terakhir Mama dan Papa. Tapi dia nggak pernah berbuat baik padaku. Dia malah sering ngerecokin aku tiap kali aku lagi tidur cantik. Dia suka narik ekorku yang semlohe itu sambil teriak-teriak “MIOLI!MIOLI” ah, aku benar-benar ingin menjitak kepalanya. Tapi sungguh, aku senang bisa tinggal dirumah mereka, karena aku bisa makan banyak, bisa lompat-lompat kesana kemari, bisa mandi pakai air hangat (berasa di spa), bisa main air di sawah, bisa nangkepin kupu-kupu dikebun sebelah, dan bisa belajar ngetik di laptop. Aku senang nggak jadi kucing jadul dan gaptek.
Untuk hari ini, cukup sampai disini dulu ya The Diare of Miaw-Lee nya. Aku janji akan sering-sering nulis di blog ini, jadi tunggu cerita-ceritaku selanjutnya ya…. SALAM MEONG #smoooochh :*
*nb : untuk perkenalan, aku menyertakan beberapa fotoku disini. siapa tau ada yang tertarik untuk modusin aku #cekitiiiirr
Ini ekorku yang semlohe ^^
Ini bokongku yang seksi konsumsi :3
Ini buat foto KTK (Kartu Tanda Kucing)
Dan yang terakhir.. Jeng jereng jeng jeng, ini dia selca terbaru ku. Cetar membahana ulala bumcikicikibum banget kan?? :*
Fallen Pine : LG L500 | ISO 400 | Manual Settings | 19-01-2013 @Links
Fallen Pine : LG L500 | ISO 400 | Manual Settings | 19-01-2013 @Links
UTS
UTS memang sedang menghantui hidupku dua minggu ini. Awalnya kupikir ritual UTS dibangku perkuliahan sesederhana UTS dibangku sekolah,
Datang –> Guru membagikan soal –> membaca soal –> mengerjakan soal yang sekiranya mampu dikerjakan –> mengecek soal yang belum dijawab –> mengarang indah (setidaknya soal ujian di sekolah dulu selalu terdiri dari pilihan ganda sehingga sangat memungkinkan untuk mengarang dengan cara menghitung kancing baju) -> kehabisan akal luncurkan jurus melirik indah (dulu ketika masih dibangku sekolah jurusnya sederhana sekali tinggal lirik, mainkan jari sedemikian rupa, dan dapatkan jawabannya) -> semua pertanyaan terjawab -> kumpulkan -> keluar kelas dan TADAA SELESAI~
Yah, mudah sekali memang. UTS dibangku sekolah yang seperti itu bisa kita juluki dengan Ujian Tidak Serius.
Tetapi ternyata, Ujian Tidak Serius seperti itu tidak terjadi di bangku perkuliahan. Disini UTS berubah menjadi Ujian Terlalu Serius. Begini urutannya :
Sensei datang -> sensei membagikan lembar soal yang isinya adalah 100% essay -> membaca soal -> mengerjakan soal yang sekiranya mampu dikerjakan -> tidak ada yang mampu dikerjakan -> bengong -> mikir -> mencari cara untuk mendapatkan jawaban -> gagal -> frustasi -> mengarang indah -> waktu habis -> jawaban dikumpulkan -> nangis dipojokan.
Yah, tapi itu jauh lebih baik karena setidaknya jika gagal di UTS ini kita masih punya waktu untuk memperbaikinya. Lain lagi jika kita melakukan hal seperti ini :
Membaca soal -> mengerjakan soal yang sekiranya mampu dikerjakan -> tidak ada yang mampu dikerjakan -> bengong -> mikir -> mencari cara untuk mendapatkan jawaban -> mendapatkan jawaban teman -> senang -> lompat-lompat sambil sikap lilin -> dosen menangkap basah -> lembar jawaban dicoret -> dan dengan merdunya dosen mengakatan “SAMPAI JUMPA TAHUN DEPAN, MAHASISWAKU TERCINTAAHH” -> mahasiswa ambil tali bunuh diri -> masuk koran.
Well meskipun dosen dikelas nggak se-alay itu, tapi tetap saja akan menjadi beban moral jika kita ketahuan “bermodus” sama dosen. Sekali tertangkap, kemungkinan besar bakalan dapat cap kepo dari dosen. Contohnya : “Ini anak udah mahasiswa, nggak sadar umur, masih aja kepo kayak anak TK,” gumam dosen dalam hati. “Kalo gitu walaupun dia dapet nilai bagus, bakalan saya kasih nilai C biar kapok,” lanjut dosen dalam hati. Nahhh, kalo udah begitu gimana jadinya? Yah, memang cara paling aman adalah caraku. Mau tau? Baiklah, akan kuceritakan kejadian UTS bunpo pada hari itu.
Saat itu hari Selasa, tanggal 30 Oktober 2012. UTS bunpo dimulai pukul setengah tiga lewat banyak karena sang dosen, Nadia Sensei datang terlambat. Setelah a, i, u, e, o, ba, bi, bu, be, bo, dimulailah ritual UTS bunpo. Aku duduk disalah satu kursi yang terdapat didalam kelas dengan tangan dan kaki sedikit bergetar (biar ada efeknya gitu). Sementara sensei membagikan soal, aku berkali-kali menyeka keringat diatas jidat (padahal sebenernya nggak ada keringat).
Bukan apa-apa, aku memang belum tau bagaimana wujud soal bunpo yang akan kukerjakan nanti, hanya saja aku terus teringat akan perkataan Cessa salah satu teman dari kelas lain. Sebelum masuk kelas, ia menghampiriku ketika aku sedang duduk seorang diri ditaman depan rektorat (forever alone ceritanya) kemudian ia curcol panjang lebar seperti ini “YA AMPUN TIKA, BUNPONYA ITU LOH. UHH, SESUATU BANGET. MENDING KANJI DEH DIMANA-MANA (maaf bukan maksud saya tidak sopan memakai capslock seenaknya, tapi saya hanya ingin kalian dapat membayangkan bagaimana intonasi bicara dan ekspresi Cessa saat itu),” ungkap Cessa dengan nada menggebu-gebu dan wajah yang emmm, kurang lebih seperti emak-emak mau melahirkan. “Lho, emang kenapa Ces?” tanyaku kepo dengan wajah minta ditendang. “ADUH POKOKNYA, HUUUH. PASTI NTAR BLANK DEH KALO NGERJAIN SOALNYA. AKU NGERTI MAKSUD SOALNYA APA, TAPI BARU MAU NGERJAIN ITU LANGSUNG BLANK. ADUH POKOKNYA…………..” (maaf saya harus menghentikan perkataan Cessa. Karena jika tidak, maka halaman di blog ini akan habis hanya karena panjangnya perkataan Cessa) Ya kurang lebih seperti itulah perkataan yang dilontarkan Cessa saat bertemu denganku.
Ketika anganku sedang melayang dimabuk kegalauan akan perkataan Cessa beberapa waktu lalu, sssssreeekkk…. tiba-tiba mendaratlah selembar kertas soal tepat diatas mejaku.
Lima!
Empat!
Tiga!
Dua!
Satu!
Perlahan kubuka lembaran yang tergeletak didepanku itu. Kemudian kubalik halaman pertamanya. Lalu kubalik lagi halamannya. Kubalik terus dan kuputar-putar halamannya lagi dan lagi hingga entah sudah berapa lama waktu yang kubuang hanya untuk membalik halaman soal. JEDIARRR!! YANG MANA YANG MESTI GUA KERJAINN??!!!!!!!!!!!!!! Otakku meleleh~
Satu menit berlalu.
Dan aku masih asik bermain dengan empitsu yang kupegang.
Tiga menit berlalu.
Dan cliiiinnggg happy new yearrr~
Secercah harapan datang…
Aku menemukan soal yang dapat kukerjakan. Dengan hati senang, riang, bahagia, dan berbunga-bunga, kukerjakan soal istimewa itu. Soal pertama yang dapat kukerjakan. Tak lama kemudian, aku sukses menghabisi soal istimewa itu.
Kemudian………
Hening.
Satu menit berlalu
Tetap hening….
Tiga menit berlalu
Masih hening juga….
Lima menit berlalu
Jidat nonongku berkerut.
Lima belas menit kemudian~
INI ARTINYA APAAAAAAAAAAAA??? Rasanya ingin kutelan mentah-mentah dua lembar kertas soal bunpo hari itu.
Dua puluh menit kemudian~
AHA~ Aku tau!!!!!!!! Ya, ini saatnya mengarang indah. Sesuatu yang memang selalu dilakukan mahasiswa disaat genting, disaat-saat kefefet. Disaat-saat kepet. Karena terkadang mengarang indah memiliki manfaat tersendiri bagi mahasiswa. Jika dosen menghargai, you will get the score walau cuma sikit-sikit tapi daripada tidak sama sekali. Ketika mengarang indah sedang berjalan begitu mulus (meski sedikit berlubang) dan membahagiakan, tiba-tiba……. JEGERRR… Aku disambar petir mendadak, jantung ingusan seketika. Mamaaakk!!!!!! Pada salah satu romawi berjejer dengan indahnya soal-soal berisikan kata sifat. Dilihat dari perintahnya, soal itu tentang mencari lawan kata dari kata sifat yang dicantumkan didalam soal.
Contoh : きれい (Cantik) lawan katanya adalah わるい (Jelek)
Sama persis seperti yang diucapkan Cessa, “Aku tau maksud soalnya, aku ngerti banget sama soalnya. Tapi aku.. Aku…” Aku pun mengalami hal yang sama dengannya detik ini. Hmm, jadi… gimana yah? Hmm…
Kubaca satu persatu deretan soal yang berupa kata sifat tadi. KYAAAAHHH… Boroboro tau jawabannya, tau arti soalnya aja enggak!! (bumi gonjang-ganjing) Alamak! Harus kuapakan soal-soal ini. Tiba-tiba keheningan menyelimutiku lagi.
15 menit kemudian……
Cling… Inspirasi datang.. Tadaaaaa~
Nggak tau arti soalnya, berarti sudah jelas dong nggak tau jawabannya. Jadi bagaimana kalau kata “Cantik” kita rubah dengan kata “Tidak Cantik”? Sudah jadi lawan katanya bukan? “Tidak Cantik kan sama saja dengan Jelek, bukan?” Ya ampuunn, otak ku jenius sekali. Kemudian dengan secepat kilat aku menyambar pensil dan mulai menjawab soal satu per satu. Kurang lebih begini contoh jawaban saya :
- おおきい (besar) yang seharusnya jawabannya adalah ちいさい (kecil) tetapi berhubung saat itu soalnya saja aku tak tau artinya, akhirnya kupilih cara halal, praktis, dan efisien seperti ini :
おおきい (besar) akhirnya kuimbuhi dengan じゃありません yang artinya tidak atau bukan. Sehingga jawabanku menjadi おおきいじゃありません (tidak besar). Begitulah seterusnya hingga aku selesai mengisi semua kolom jawaban.
Sedikit merasa tenang setelah selesai mengarang indah tadi, meskipun sudah jelas itu adalah metode kekanak-kanakan dan kurang dewasa (apa bedanya?) Nah, kita masuk ke romawi terakhir.
Jengjerengjengjeng happy new year (bawa gitar sambil naik kambing).
Nomor satu, ah kecil. Nomor dua, wah lucu sekali.
Nomer tiga……………………………………………….
Steples dalam bahasa Jepang itu artinya apa? Apakah ステルヌ゚ (baca : suterupu) ataukah ステルネ゚ル (baca : suterupusu)? Entahlah, hanya buku kosakata lah yang bisa menjawab misteri ini. Karena UTS ini tidak mengijinkan mahasiswa untuk membuka buku kosakata maupun minna no nihongo, alhasil aku pasrah akan kenyataan dan dengan terpaksa kutuliskan わかりません (tidak tau) yang berarti aku sedang menunjukkan pada sensei bahwa aku tidak tau jawaban dari soal itu. Yak~ selesai sudah. Semua kolom jawaban sudah terisi. Beberapa diantaranya sudah dapat kuyakini bahwa itu benar, sisanya adalah mengarang indah yang masih belum diketahui kebenarannya, serta tiga deret soal yang kuisi dengan jawaban わかりません (tidak tau). Ternyata masih ada sisa waktu sebelum semua ini berakhir. Akhirnya dengan sisa waktu yang berharga itu aku berusaha membuat sesuatu yang mungkin (mungkin lho yaa) akan membuat sensei tergerak hatinya untuk menambah sedikit nilaiku (mulai tidak waras). Dilembar soal paling akhir, kugambarkan sebuah emoticon indah nan lucu spesial untuk sensei tercinta, kurang lebih seperti ini -> T_T kemudian dibawahnya kutuliskan sebuah kalimat melas nan mengharukan seperti ini -> すみません, 先生 yang artinya adalah Maafkan aku, Sensei. Dan didalamnya terkandung makna dan pesan “KASIHANI SAYA SENSEI, TAMBAHIN NILAI DONG” indah sekali bukan? Tak lama kemudian waktu habis dan berakhirlah ke-kepoan ku hari itu.
THE END
Nb : tisu mana tisu?
Author : Atyka Yoonique
Genre : Sad Romance
Ratting : T
Long : 1 chapter
Cast : Kwon Jiyong, Sandara Park, Park Bom
PLEASE DON’T BE A PLAGIAT. COPY AND PASTE ARE NOT ALLOWED
Pagi ini, awan mendung menuntunku menuju sebuah bukit di Gwangju. Rumah masa depan manusia, tempat terbaringnya raga-raga yang telah habis masa kontraknya dengan Tuhan. Aku berjalan melintasi gundukan-gundukan tanah yang dihiasi rumput dan ilalang. Sesekali aku berjumpa dengan peziarah yang sedang tertunduk dalam diam. Mengirim sepucuk doa pada Sang Pencipta untuk raga yang tertidur lelap di dalam gundukan tanah. Tak sedikit dari mereka meneteskan air mata, seperti yang biasa kulakukan setiap bertandang kemari.
Langkahku terhenti tepat di samping gundukan tanah yang hampir setiap bulan kukunjungi. Semuanya masih sama seperti terakhir kalinya aku berkunjung kemari. Hanya ada bangkai bunga yang kubawa sebulan lalu. Sesaat kutatap batu nisan bertuliskan Sandara Park, 12 November 1989 – 31 Juli 2011. Di dalam gundukan tanah ini tengah berbaring sesosok raga yang dulu hingga kini telah menempati tempat terdalam di hatiku. Tak terasa telah genap setahun kami tidak bertemu. Tentu saja, setahun yang lalu penyakit demam berdarah mengatarnya menemui ajal. Merenggut tawa dan senyuman polosnya dari fana, serta pandanganku.
“Annyeong Dara-yah,” ucapku lirih. Kuletakkan seikat bunga mawar merah segar di dekat nisannya. Aku duduk terpaku. Air mataku berlinang. “Jeongmal bogoshipo,” suaraku bergetar seiring jatuhnya butiran air mataku. “Apa kau ingat dengan hari ini?” tak ada jawaban dari sang empunya rumah. Aku masih ingat betul kejadian dua tahun lalu yang meninggalkan bekas dalam relung hati dan pikiranku. Ia mengucapkan selamat ulang tahun padaku untuk yang pertama dan terakhir kalinya.
Angin bertiup perlahan, membelai lembut pepohonan dan ilalang di sekitar pemakaman. Kesedihan yang bertubi kembali menyelimutiku, sama seperti bulan-bulan sebelumnya ketika aku datang kemari. Bagiku ialah sang pemenang yang telah merampas seluruh hati dan pikiranku tanpa ijin. Persediaan air mataku seakan tak pernah habis jika sedang mengingatnya. Sandara Park, aku masih ingat benar wajahnya yang cantik, senyumnya yang menawan, dan tatapannya yang teduh. Matanya bulat, alisnya tebal, hidungnya yang mungil dan mancung juga sangat indah, pipinya selalu menggoda setiap orang yang melihat untuk segera mencubitnya, bibirnya mungil dan tipis, sekilas wajahnya memang polos dan sedikit kekanak-kanakan. Ya, wajah itulah yang selalu menghiasi malam-malam senduku ketika kerinduan sedang merajai hati. Bagiku, kamu memang sepuluhribu lipat lebih cantik dari seikat bunga mawar.
Kepergiannya begitu melukai ku. Menggoreskan beribu ratapan dan penyesalan. Salah satu penyesalan teratas di antara beribu penyesalanku adalah, jika saja aku tau kamu akan pergi secepat ini akan kubiarkan semesta tau bahwa setiap angan, fantasi dan imajinasiku selalu dipenuhi olehmu. Kamu bahkan tak menyisakan sedikitpun tempat di hatiku untuk disinggahi yeoja lain.
“Oh Kwon Jiyong!” suara lantang seorang yeoja membuyarkan lamunanku.
“Noona!” ucapku sambil menyeka air yang menggenang dipelupuk mata.
“Apa yang sedang kau lakukan?” tanyanya sembari berjalan mendekatiku.
“Aku sedang ingin melihatnya” ucapku lirih. Park Bom noona adalah sahabat Dara sejak kecil. Ia adalah tempatku mengumpulkan infomasi tentang Dara.
“Bagaimana kabarmu Jiyong? Sudah lama kita tidak bertemu,” sapanya ramah sembari menjabat tanganku.
“Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu? Ya, sudah lama kita tidak bertemu. Setahun memang tidak terasa.” Kami berdua duduk bersandingan di samping makam Dara.
“Annyeong Dara-yah. Bagaimana kabarmu? Apa kau merindukanku?” sapa Bom noona pada gundukan tanah yang bisu itu. Aku bisa melihat ia sedang menitihkan air mata. “Jeongmal bogoshippo chingu-yah! Nappeun yeoja, kau meninggalkanku begitu saja!” isak tangisnya semakin menjadi.
“Sudahlah noona. Jika kau lakukan ini ia akan merasa sedih,” hiburku sambil menepuk bahunya.
“Saengil chukka hamnida Jiyong,” ucapnya melempar senyum padaku.
“Gomawo, kekekeke. Ternyata kau masih mengingatnya,” ucapku sedikit terkekeh.
“Ani, sebenarnya aku tidak pernah mengingatnya. Tapi Dara lah yang mengingatkan ku. Ia yang menitipkan ucapan itu untukmu,” ujarnya tanpa menatapku.
“Mwo? Apa maksudmu?” tanyaku sedikit terkejut. Kemudian Bom noona merogoh sesuatu dari dalam tasnya.
“Ini, ambilah Jiyong” ucapnya sambil menyodorkan sebuah kotak sedang. Mataku terbelalak ketika melihat isi di dalam kotak itu. Sebuah buku diary merah, sekotak cokelat, dan sebuah syal rajut berwarna merah muda.
“Ige mwoya?” tanyaku terbata. Aku bisa merasakan air mulai menggenang di pelupuk mataku.
“Ini hadiah dari Dara untukmu Jiyong, kau bisa membacanya sendiri,” jelasnya singkat. Aku membolah-balikkan kotak berwarna merah muda itu. Setelah melayangkan beberapa doa untuk Dara, Bom noona pamit pulang padaku. Hampir saja aku melupakannya karena pikiranku melayang dipenuhi pikiran tentang isi kotak merah muda itu.
Kini awan mendung dan semilir angin mengantarkanku pulang . Sesampainya di rumah, aku mulai membuka lembaran-lembaran diary merah muda milik Dara. Di halaman pertama, ia menuliskan biodata dan menempelkan sebuah foto kecil miliknya. Di halaman kedua ia menuliskan kalimat perkenalan pada diary merah. Halaman berikutnya, ia menuliskan hari pertamanya memasuki SMA. Kubuka halaman demi halaman diary merah itu. Mataku terbelalak ketika kubaca di setiap halaman itu tertera namaku. Air mataku mulai menggenang lagi. Dara menyimpan berjuta perasaan padaku selama ini. Setelah melewati beberapa halaman, pandanganku terhenti pada goresan terakhir Dara. Inilah akhir dari kisahnya. Ia menuliskan diary tentang ulang tahunku setahun yang lalu. Tepat sehari sebelum kepergiannya.
Dear Diary.
Hari ini seharusnya adalah hari yang paling kutunggu. Hari ini seharusnya aku sudah menemuimu. Hari ini seharusnya akulah orang pertama yang menghampirimu. Hari ini seharusnya aku pergi ke sekolah. Aku sedih, Eomma tak mengijinkan aku untuk masuk sekolah. Trombositku semakin turun ke angka 40.000. Sudah empat hari kita tidak bertemu, aku sungguh merindukanmu Oppa. Aku sungguh ingin melihat wajahmu. Oppa, aku membuatkanmu sebuah syal merah muda kesukaanmu. Dengan cinta disetiap rajutannya. Aku juga memberimu cokelat, bukankah kau suka cokelat? Kuharap kau akan segera menghabiskannya setelah kuberikan ini padamu. Oppa, aku tak sabar menunggu hari esok. Kuharap, aku bisa cepat menemuimu dan segera menyampaikan kado ini padamu. Tunggu aku Oppa. Aku akan datang padamu. Segera. Jangan berpaling kemanapun. Saengil Chukka Hamnida Jiyong Oppa! Jeongmal Saranghae!
Sandara Park
30 Juli 2011
Tangisku pecah seketika, membahana ke seantero rumah. Mungkin ini ucapan terakhir darinya, tapi ini akan menjadi selamanya bagiku. Sedih dan bahagiaku bercampur manjadi satu. Sayang meski ragamu tak lagi dapat kuraih, ingatlah kau akan tetap menjadi cinta terakhir untukku. Akan kubiarkan ini menjadi kenangan paling indah dalam hidupku. Jika nanti aku telah tiada, biarkan aku beristirahat di sampingmu dan memelukmu di keabadian.
THE END
NB : Tisuuu mana tisuu… #srot
Kanji Mblenyek, itulah panggilan kesayangan dari mahasiswa-mahasiswa Sastra Jepang khusus untuk Mata Kuliah Kanji yang akhir-akhir ini memenuhi otak, pikiran, dan hati para mahasiswa tidak terkecuali saya. Kegalauan menjelang UTS Kanji, membuat saya bukannya belajar Huruf Kanji tapi malah membuat karangan yang nggak ada indah-indahnya sama sekali. Maksud hati, saya hanya ingin menghibur diri dengan cara membayangkan bagaimana jika suasana UTS Kanji esok berubah menjadi seperti ini :
Me : “Sensei, sensei.. UTS kanji nya sampe bab berapa?”
Her : “Bab 12, Tika”
Me : “Sensei, khusus buat saya sampe Bab 4 aja ya sensei”
Her : “Lho kenapa?”
Me : “Biar hemat kertas sama tinta sensei”
Her : -______________-”
-||-
Sensei : “Mina, waktunya sudah habis, silahkan kumpulkan kertas ujian dan lembar soal kalian”
Beberapa menit kemudian
Sensei : “Lho Tika, kenapa kertas ujian kamu kosong?”
Me : “Sumimasen sensei, isi pensil saya habis, pensil 2 B saya buntung, dan saya baru ingat kalau saya tidak membawa kotak pensil”
#hening
-||-
Sensei : “Mina, waktunya sudah habis, silahkan kumpulkan kertas ujian dan lembar soal kalian”
Beberapa menit kemudian
Sensei : “Lho Tika, kenapa kertas ujianmu tidak ada? Kamu belum mengumpulkan?”
Me : “Sumimasen sensei, saya nggak dapet lembaran soal, tadi”
#kempitsoaldibawahketek
-||-
Me : “Sensei, sensei ini tulisan apa ya?”
Sensei : “Ya kanji lah Tika”
Me : “Lho, kok bentuknya seperti ini?”
Sensei : “Ya memang seperti itu, mau seperti apa lagi?”
Me : “Lho sensei, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kanji merupakan salah satu jenis tepung yang biasanya dipakai sebagai bahan utama pembuatan cilok”
Sensei : “BUKAN TIKA! ITU TEPUNG KANJI, KALAU INI NAMANYA HURUF KANJI”
Me : “Oh, begitu ya sensei.. Hmm kalau begitu, ini bacanya apa sensei?”
Sensei : #telenpapantulis
-||-
Me : “Sensei sensei, ini bacanya watashi, ya?”
Sensei : “Saya tidak tau, terserah kamu mau baca apa”
Me : “Lho, sensei kok gitu? Kalo nggak bisa baca huruf kanji kok bisa jadi sensei?”
Sensei : “Ya jelas bisa lah! Nggak mungkin saya nggak bisa baca huruf kanji”
Me : “Ya kalau begitu ini bacanya apa sensei?”
Sensei : “Kerjakan sendiri”
Me “Sensei pelit, sensei payah, sensei jahat, sensei teganya dirimu teganyateganyateganya”
#makankertasujian
-||-
Me : “Sensei, sensei, ini bacanya apa?” #maju kedepan kelas sambil nunjuk soal
Sensei : “Saya tidak tau”
Me : “Ooh, sa… ya.. ti… dak… ta… u..” #duduk lagi lalu nulis dikertas ujian
Tak lama kemudian…
Me : “Sensei, sensei, kalo yang ini bacanya apa?” #maju lagi kedepan kelas sambil nunjuk soal
Sensei : “Kerjakan sendiri”
Me : “Ohh, ker.. ja… kan… sen.. di.. ri.. Arigatou gozaimasu sensei.” #duduk lagi lalu nulis dikertas ujian
Beberapa waktu kemudian..
Sensei : “Mina, waktunya sudah habis, silahkan kumpulkan kertas ujian dan lembar soal kalian”
Setelah sensei selesai loading..
Sensei : “TIKA KENAPA JAWABAN KAMU SEPERTI INI?”
Me : “Lho, itu tadi kan sensei yang ngajarin saya?”
Bagaimana? Garing yah? Kalau garing, silahkan dibaca lagi dan bayangkan Na*ia Sensei atau Ma*e Sensei atau Em*a Sensei atau Fit*i Sensei atau bahkan Est*r Sensei berkata seperti itu pada anda pada detik detik UTS. Kalau masih garing, sering-sering mampir kesini dan baca tulisan saya yah
:piece:
NB : INI HANYALAH KARANGAN DAN FIKTIF BELAKA, BILA BERLANJUT HUBUNGI DOKTER
Dear Cungkringku
Hari ini, tanggal 16 Oktober 2012 nyaris pukul sebelas malam. Seharusnya aku menyelesaikan PR menulis kanji dari sensei, tapi setelah beberapa saat chatting denganmu aku jadi ingat dengan tugas kecil yang seharusnya kuberikan padamu tanggal 14 Oktober 2012 lalu. Tugas kecil yang seharusnya ku selipkan di dalam bungkus kado berwarna biru berisi sebuah hadiah sederhana dengan potongan koran-koran lama spesial untukmu. Maaf hanya sebuah hadiah sederhana, tapi semoga itu berguna untukmu. Maaf jika kurang menarik, jujur itu murni pilihanku. Maaf juga aku tak sempat menyelipkan tugas ini didalam kadomu. Ah, maaf tugas kanji masih bisa ku selesaikan besok, aku harus menulis ini dulu sebelum kalimat-kalimat alay ini menghilang dari dalam benak.
Pertama-tama, selamat ulang tahun untukmu sayang. Semoga tulisan tanganmu diatas kertas folio bergaris yang kubaca tadi segera dapat kamu coret satu per satu. Kudoakan semua yang terbaik untukmu. 19 tahun usiamu, tak terasa sudah cukup lama kamu menghirup oksigen di muka bumi, sudah remaja beranjak dewasa, sudah bukan anak sekolah seperti yang kulihat beberapa bulan lalu (sebenarnya aku rindu melihatmu memakai seragam hehe). Yaa, pacarku sudah tua :p hihihi This is your first birthday with me. I wish that I will always stay by your side until your last birthday. Aminn.. Semoga kamu tidak bosan :p Setelah pertemuan pertama kita yang kurang lebih tiga tahun lalu, aku masih sedikit tidak percaya kini kita seperti ini dan sedang berjalan tujuh bulan lebih. Setelah mengacuhkanmu diawal kita menjadi teman sekelas ternyata kini dimataku dan dihatiku kamulah yang tertampan walau terkadang bertemu ketika hari sudah siang, rambutmu sudah acak adut, dan wajahmu sudah kusut. Bahkan meski tubuhmu sudah bermandi keringat kini tetap hanya kamu yang punya aroma terharum. #ups Maaf jika aku sering mengatakan “Widyan jelek, Widyan cungkring, dan bla bla bla” padamu. Tapi kamu harus tau bahwa saat mengatakan itu aku sedang melatih kemampuanku bersandiwara. Aku terlalu malu untuk mengatakan yang sejujurnya padamu. :p
Dear Widyan Fakhrul Arifin, terima kasih telah dengan setulus hati memberi anak keras kepala ini beribu-ribu cinta dan kasih sayang. Terima kasih telah bersedia menjaga anak kecil yang manja ini dengan sabar dan penuh perhatian. Terima kasih telah dengan senang hati bersedia menemani anak bandel ini dalam hujan, terik mentari, maupun sejuknya hembusan angin. Terima kasih telah dengan sepenuh hati mengajari anak cerewet ini banyak hal tentang hidup. Terima kasih telah bersedia direpotkan oleh anak rewel ini meski kamu sedang dihujani rasa letih. Terima kasih telah menjadi pacar, teman, sahabat, kakak, musuh, sandaran, dan apapun untuk anak kecil yang ngambekan ini. Maaf jika selama disampingmu aku hanya bisa membuat onar. Maaf jika belum bisa menjadi pacar yang baik. Jangan jogging lagi ya, jangan keluarin hujan buatan lagi, jangan pernah berpikiran kalo aku bakalan imigrasi ke hati lain lagi. Nggak ada nyamuk yang boleh gigit hatiku kecuali kamu :p Love you so much, dear :*
Yours,
Sapi Diet
Author : Atyka Yoonique
Genre : Romance
Cast : Sandara Park, Kwon Jiyong
“Aku mencintaimu,” bisik seorang namja sambil mempererat pelukannya pada yeojanya.
“Aku juga mencintaimu,” bisik yeoja itu lembut. Sebuah senyum bahagia tampak menghiasi bibir mungil yeoja itu.
“Tunggu aku. Aku akan kembali padamu lima hari lagi,” ucap namja itu sambil mengecup kening yeoja itu. Panggilan untuk penumpang pesawat tujuan pulau Jeju telah berkumandang. Namja itu bergegas masuk kedalam pesawat yang akan ditumpanginya.
_______________________________________________________________________
“Sandara-ssi,” sayup terdengar suara seorang namja memanggil yeoja itu dari kejauhan.
Seketika mata yeoja itu terbelalak ketika ia berbalik dan melihat siapa sosok namja yang memanggilnya. Lidahnya terasa kelu, bibirnya bergetar perlahan, kakinya seakan tak punya kekuatan lagi untuk menopang tubuh mungilnya, jantungnya berdegup hebat.
“Eomma, tolong aku,” yeoja itu meringkuk diatas tempat tidurnya sambil terus terisak.
________________________________________________________________________
“Kau membuatku tak bisa tidur,” sebuah tawa kecil keluar dari bibirnya.
“Sebenarnya apa yang kau inginkan?,” teriakan yeoja itu membahana penuh kemarahan.
“KAU………………”
to be continue…………..
Well, ini sebenarnya bukan coretan pertamaku di blog ini. Tapi takdir yang membuatku berpura-pura seolah-olah ini adalah coretan pertamaku. Kurang lebih sudah tiga kali aku mencoret blogku ini dengan “coretan pertama”. Entah ada masalah apa tiba-tiba saja semua coretan GJ dan ababilku lenyap begitu saja dari blog ini. Mungkin coretan-coretan itu terlalu ababil hingga mereka kena karma dan lenyap begitu saja dari permukaan bumi ini, mungkin. hmmm…
Nggak ada kata-kata spesial yang ingin kuucapkan didalam coretan pertamaku yang kesekian ini, tapi harapanku semoga peliharaanku ini bisa membuat sedikit perubahan yang lebih baik. Bukan hanya aku saja atau pacarku si tukang mata-mata itu yang rajin membaca blog ini, tapi juga para pembaca yang nyasar atau salah buka blog dan kemudian mulai kecantol sama tulisan-tulisan ababilku (aaaamiiiiiiin). Yang penting bukan jumlah pembacanya, tapi seberapa berguna peliharaanku bagi pembacanya (ecieeeehhh).
Lebih berarti punya lima orang pelanggan tetap yang setiap harinya mampir ketimbang orang yang sekedar singgah dan tak pernah kembali lagi (ayeeee), soo…. jadilah pelanggan ku #lho??! PLAK !! Untuk yang nyasar kuucapkan selamat datang, semoga kenyasaran anda membawa berkah muehehehe. Untuk yang mampir, selamat datang dan terima kasih telah sudi mampir ke blog ini. Untuk yang telah sudi menjadi pembaca setia serta dengan ikhlas meninggalkan sedikit jejaknya disini, terima kasih banyak semoga anda mendapat pahala yang melimpah ruah amiiiiinnn hehehehe ^^v
WELCOME TO MY BLOG. I WISH YOU WILL ENJOY IT. HAPPY READING











